in

Pemuda Muhammadiyah Hadiri Doa Bersama untuk NKRI di Masjid Raya Bandung

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PP PM) Sunanto menghadiri istighotsah bertemakan "Doa Bersama Untuk NKRI" di Masjid Raya Bandung, Kota Bandung, Kamis 17 Januari 2019 malam.

PPPM, BANDUNG – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PP PM) Sunanto atau akrab disapa Cak Nanto menghadiri “Doa Bersama Untuk NKRI” di Masjid Raya Bandung, Jalan Dalem Kaum No 14, Balonggede, Regol, Kota Bandung, Kamis 17 Januari 2019 malam.

Doa Bersama untuk NKRI dihadiri Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono, Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto, Rois Syuriyah PWNU Jabar KH M Nuh Addawami serta segenap pejabat Mabes TNI dan Mabes Polri.

Dalam ramah-tamah sesaat sebelum acara dimulai, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto sempat menyampaikan bahwa salah satu yang hadir dalam Doa Bersama untuk NKRI kali ini adalah Cak Nanto. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah hasil muktamar Yogyakarta itu disebutnya sebagai sosok yang luar biasa.

Cak Nanto ini luar biasa, ini hadir bersama rekan-rekannya,” kata Hadi Tjahjanto sambil menyalami satu persatu PP PM yang hadir.

Di antara pimpinan PP PM itu adalah Ketua Ekonomi dan Kewirausahaan Horo Wahyudi, Ketua Bidang Seni Budaya dan Olahraga Rahmatullah Baja, Wakil Sekretaris Bidang Organisasi dan Keanggotaan Anderiyan Noor, Sekretaris Bidang Tani dan Nelayan Yudhi Najibullah dan Sekretaris Bidang Lingkungan Hidup Ihsan Jauhari.

Sementara itu Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya dengan gelaran “Doa Bersama untuk NKRI” yang diselenggarakan Mabes TNI dan Mabes Polri. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting dalam rangka menjaga keutuhan bangsa.

“NKRI adalah hasil perjuangan bukan pemberian. Banyak orang tua kita yang berkorban darah, berkorban nyawa, untuk lahirnya empat kata tadi, NKRI,” ucapnya.

Seluruh warga Jabar, ditekankan Ridwan Kamil agar terus merawatnya karena kekuatan bangsa ini sebenarnya adalah persatuan. Begitu sebaliknya, kelemahannya adalah munculnya bibit-bibit perpecahan.

“Kalau kita kuat seperti ini tidak akan pecah. Kita hidup di negeri yang agamanya berbeda, agamanya beragam, orang tua kita sudah sepakat dengan Pancasila. Seyogyanya kesepakatan ini tidak dipertanyakan, Pancasila seperti piagam Madinah, memuliakan yang mayoritas tapi juga memberikan kenyamanan bagi minoritas,” urainya.

Masih kata Kang Emil, sapaan akrabnya, kita seringkali melihat bibit-bibit yang mengkhawatirkan bagi keutuhan bangsa. Padahal sama-sama ber-KTP Indonesia, tapi bertengkar hanya karena beda politik, bertengkar sedemikian hebat karena perbedaan kepemimpinan. (Red)

Penulis: admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0