in ,

Pemuda Muhammadiyah di Tengah Tantangan Ekologi

Oleh: Cak Nanto
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Seiring laju modernitas di dalam teknologi dan pembangunan, kian hari kita semakin akrab dengan berbagai masalah ekologi. Bukannya tanpa sebab, selain bumi yang semakin menua, kerusakan alam lebih banyak muncul sebagai keniscayaan kausalitas dari ulah manusia sendiri.

Analisis Greenpeace (2019) menyebutkan 3.403.000 hektar (ha) lahan di Indonesia terbakar antara tahun 2015 sampai dengan 2018 di Indonesia berdasarkan data burn scar dari data resmi pemerintah. Di masa pandemi, World Economic Forum (2020) memprediksikan kerusakan ekosistem secara kumulatif akan naik sebanyak 76.2%.

Di luar faktor alam, kerakusan manusia untuk terus mengeksploitasi bumi dan isinya justru membuat bencana maupun krisis lingkungan sebagai cara baru bagi alam untuk menyeimbangkan diri. Dengan kata lain, fungsi khalifah manusia sebagai makhluk yang ditugasi Tuhan untuk mengelola alam secara besar telah gagal.

Ironisnya, manusia baru sadar untuk kembali pada fitrahnya setelah kehidupan mereka terancam karena Tuhan memberikan teguran melalui krisis lingkungan.

Bagi umat Islam, banyaknya perangkat firman Allah maupun hadis Nabi yang secara eksplisit menyinggung tentang ekologi seharusnya membuat mereka bergerak sebagai pelopor. Alih-alih bergerak memimpin, umat Islam yang mayoritas hidup sebagai warga negara dunia ketiga malah nampak abai terhadap lingkungan sekitarnya.

Ulama, lembaga keagamaan di satu sisi juga menggunakan materi khutbah tentang lingkungan itu sebatas retorika tanpa tindakan berkelanjutan.

Bukannya putus asa, kompleksitas masalah ekologi menyangkut aspek ekonomi, sosial-budaya, teknologi, teologi hingga ideologi dan politik sehingga dunia kesulitan menemukan formulasi yang tepat dan jitu.

Bersyukurnya, belakangan ini tema konservasi lingkungan hidup nampaknya mulai diminati oleh sebagian besar generasi muda yang aktif dan melek teknologi.

Pembahasan tentang teknologi alternatif yang ramah lingkungan (green technology) mulai banyak diujicoba dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masa depan ekologi, kelompok muda seperti itu sangat dibutuhkan sebagai agen perubahan dengan penerjemahan etika lingkungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Bagi Muhammadiyah, penerjemahan usaha-usaha konservasi alam tidak terlepas dari ideologi amar makruf nahi munkar. Penerjemahan Al-Ma’un akan semakin sulit diwujudkan dengan kerusakan lingkungan yang parah.

Pemuda Muhammadiyah sebagai elemen Persyarikatan yang matang, perlu meluaskan berbagai gerakan kepeloporan dalam berbagai aktivitas konservasi mulai dari ‘teknologi hijau’ hingga rekayasa sosial mengubah cara pandang masyarakat untuk lebih akrab dan menghargai alam.

Tentu, upaya kolektif untuk menyelesaikan persoalan lingkungan amat dibutuhkan. Penyelamatan ekologi memerlukan banyak sinergi dan kerjasama antar komponen, kaum muda, masyarakat serta para ahli dari berbagai latar belakang disiplin keilmuan.

Dengan tantangan tingginya kerusakan ekologi yang sedang kita hadapi, kerja-kerja kepeloporan Pemuda Muhammadiyah sangatlah dinantikan oleh masyarakat luas. Tidak ada yang tidak mungkin jika kita semua bergerak bersama-sama dan saling menopang mewujudkannya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0