in

Indonesia Panen Musibah, Saatnya Kita Semua Muhasabah

Cak Nanto dalam Pelantikan Pengurus PWPM Jawa Timur, Maret 2019
Cak Nanto dalam Pelantikan Pengurus PWPM Jawa Timur, Maret 2019

Oleh: Sunanto
Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah

MENGAWALI tahun 2021, Indonesia didera kesedihan massal. Selain musibah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, di berbagai daerah terjadi berbagai bentuk bencana alam mulai dari gempa bumi di Sulawesi Barat, banjir di Kalimantan Selatan, longsor di Kabupaten Sumedang dan luapan ombak laut di Manado.

Belum lagi bencana Banjir di Pidie, Aceh, Nunukan Kalimantan Utara, banjir bandang di Gunung Mas, Cisarua Kabupaten Bogor, dan juga banjir yang hampir merata terjadi di berbagai daerah.

Dampak dari berbagai bencana ini pun menyesakkan hati seluruh masyarakat. Puluhan ribu warga harus mengungsi, ribuan rumah terendam banjir, ratusan nyawa melayang, dan kelumpuhan ekonomi yang masih berlangsung hingga saat ini. Alam tidak bisa disalahkan sebagai faktor utama penyebab bencana alam.

Persyarikatan Muhammadiyah jauh-jauh hari telah menyampaikan peringatan dan hasil kajian yang tak jauh berbeda dengan para aktivis lingkungan lainnya. Deforestasi, perilaku masyarakat tentang manajemen sampah dan juga lemahnya penegakan hukum menjadi sekian potensi penyebab bencana.

Contoh sederhana adalah di Kalimantan Selatan, banyak analisa dan hasil kajian yang mengulas tentang dampak deforestasi dan aktivitas tambang yang tidak pro terhadap keberlangsungan lingkungan. Belum lagi di Sumedang, Pidie Aceh, Jember Jawa Timur, yang jika ditelisik sebabnya pun tak akan jauh berbeda: pengelolaan lahan dan penegakan hukum bagi para pelanggar kerusakan lingkungan masih kurang tegas.

Sebab lainnya adalah tata ruang pembangunan daerah yang kerap menabrak aturan dan keseimbangan alam. Apalagi masyarakat kita belum mempunyai kesadaran kolektif untuk berpartisipasi menjaga keberlangsungan alam di Nusantara.

Padahal, jika kita renungkan berbagai bencana hidro meteorologis seperti banjir, kekeringan dan longsor nyata-nyata disebabkan oleh degradasi lahan dan deforestasi. Dalam jangka yang lebih luas dengan jumlah populasi Indonesia sebanyak 267 juta jiwa, bukan tidak mungkin hal ini akan menjadi jalan krisis kehidupan baru.

Bencana Alam Sebagai Alarm Kemanusiaan bagi Pemerintah dan Penegakan Hukum

Membaca masalah lingkungan dan kebencanaan tidak bisa dipisahkan dari aktivitas pemerintahan, baik di daerah dan juga pusat. Saya meyakini aktivitas pemerintahan yang berpihak pada keseimbangan lingkungan tentu harus bertransformasi pada cara pandang dan sikap aparatur negara untuk senantiasa berjihad melindungi lingkungan .

Komitmen sebagai penjaga bumi harus hidup dalam sanubari para birokrat dengan implementasi tata kelola hutan dan lingkungan yang sesuai jalur konstitusional. Potensi kecurangan dan penyimpangan di aktivitas pemerintahan harus benar diperangi dari hal-hal kecil.

Kuatnya penegakan hukum dan transparansi publik dan dibarengi dengan partisipasi publik tentu akan bersenyawa pada tradisi dan sikap sebagai agen penyelamat lingkungan yang paripurna.

Masyarakat dan pemangku kepentingan harus bersama-sama membumikan tindakan penyelamatan lingkungan. Musibah bencana alam yang menimpa puluhan ribu warga bangsa pada awal tahun ini harus memberikan jalan keluar untuk membangun kesadaran masyarakat agar aktif bergerak dalam berbagai agenda penyelamatan lingkungan.

Tak kalah penting adalah aktivitas para aparatur yang senantiasa konsisten di jalan regulasi yang konstitsuional. Seharusnya sudah tidak ada lagi aktivitas suap menyuap dan pat gulipat yang kemudian mempermudah para pemodal besar mengeruk keuntungan yang berakibat pada rusaknya lingkungan.

Aparatur negara dari birokrat dan penegak hukum tegas dan tangguh dalam mengimplementasikan kebijakan dan regulasi yang bermuara pada penyelamatan lingkungan.

Dalam situasi seperti saat ini, seluruh anak bangsa harus menjadikan rentetan bencana sebagai sebuah alarm kemanusiaan agar masyarakat memiliki komitmen yang beriringan tentang pentingnya melindungi alam dengan sikap dan keadaban terhadap lingkungan.

Problematika lingkungan tidak bisa dipandang dengan menggunakan pendekatan teknis semata. Muatan perilaku yang melingkupi mindset, sikap, perilaku dan akhlak masyarakat menjadi penting untuk dibangun secara kolektif. Masyarakat pun juga harus turut merenung dan membaca kembali perilakunya terhadap alam apakah bersahabat atau tidak.

Saya bersyukur melihat kesadaran Pemuda Muhammadiyah di berbagai tempat yang mulai sering menggelar penanaman pohon dalam berbagai agenda kegiatan Persyarikatan. Sadar atau tidak, aksi nyata ini akan berdampak pada banyak hal, termasuk masa depan generasi selanjutnya.

Selanjutnya, tantangan bagi Pemuda Muhammadiyah ke depan adalah harus gencar membuat rekayasa sosial agar masyarakat mampu mengubah kebiasaan yang tidak bersahabat dengan alam dari membuang sampah dan lainnya akan berubah.

Saya berharap tulisan sederhana ini dapat menjadi oase bagi seluruh anak bangsa untuk istikamah mendekat pada tindakan yang berkeadaban. Perbuatan kolektif anak bangsa senantiasa pada jalan menjaga keseimbangan alam yang jauh dari kepongahan, kecurangan dan keserakahan mengeksploitasi hutan dan lingkungan.

Bahkan tidak berlebihan jika kemudian seluruh elemen bangsa menjadikan isu lingkungan sebagai bentuk jihad kebangsaan baru. Saya berharap seluruh warga bangsa mempunyai kesamaan pandang, kebulatan tekad dan tindakan kolektif melindungi alam, lingkungan, dan keberlangsungan umat manusia.

billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat

Jakarta, 19 Januari 2020

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0