in , ,

Demi Kemanfaatan Kader, Cak Nanto Telaten Garap 4 Program Tidak Populis

PEMUDAMUHAMMADIYAH.ORG, JAKARTA – Menutup akhir tahun, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Cak Nanto mengaku ada empat hal yang sedang diperankan oleh Pemuda Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan kepemudaan selama 2020.

Empat hal tersebut adalah peran edukator, aggregator, akselerator dan evaluator yang difungsikan untuk memaksimalkan peran para Kader dalam berbagai peran kebangsaan dan kemanfaatan pada masyarakat.

Meskipun tidak populis, Cak Nanto mengaku tidak ambil pusing. Baginya, yang terpenting adalah potensi para kader tersalurkan secara optimal dan memberikan kemanfaatan luas.

“Tapi yang paling penting adalah model yang kita lakukan ini bukan soal hitam putihnya, paling benar atau salahnya, ini metodologi, tentu tidak memberikan kegembiraan pada banyak orang tapi setidaknya kita telah melakukan apa yang kita ejawantahkan ingin bermanfaat bagi orang lain,” jelasnya.

Dalam forum Muhasabah Akhir Tahun AMM, Kamis (31/12) Cak Nanto menyebut peran pertama pada bidang edukator dilakukan ke dalam internal kader sebagai penguatan gerakan, dan juga melakukan pembinaan pada masyarakat umum melalui berbagai program pemberdayaan, terutama bidang ekonomi UMKM.

Peran kedua adalah sebagai aggregator. PP Pemuda Muhammadiyah berusaha seoptimal mungkin memberikan saran dan masukan pada berbagai masalah kebangsaan dan keumatan dengan mengedepankan kebersamaan dan solusi.

Peran ketiga menurut Cak Nanto adalah dalam peran akselerator. Pemuda Muhammadiyah di satu sisi berusaha meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia para kader, dan di sisi lain mendorong peningkatan itu dibarengi oleh pemberian kemanfaatan yang juga semakin meningkat bagi umat.

Sedangkan, peran yang keempat menurutnya adalah peran evaluator. Pemuda Muhammadiyah menurutnya berusaha untuk mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah yang tidak secara konstruktif mendukung pengembangan potensi para generasi muda.

“Maka salah satu caranya bagaimana mentransformasikan potensi kader yang selama ini macet. Apalagi di tengah-tengah banyaknya polarisasi,” jelas Cak Nanto.

“Tugas ini kami ambil karena nilai-nilai dakwah Muhammadiyah adalah bil hal, tidak hanya berteriak-teriak saja. Karena di Pemuda Muhammadiyah pun banyak perbedaan. Tapi setidaknya konstruksi dialog ini terus kami gerakkan untuk saling memahami payung gerakan Pemuda Muhammadiyah,” tegasnya. (afn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0