in ,

Cak Nanto: Negara Jangan Takut Kritik

PEMUDAMUHAMMADIYAH.ORG, JAKARTA – Sepanjang tahun 2020, kesehatan demokrasi di Indonesia disebut mengalami penyusutan, demikian simpulan laporan Direktur Amnesti International Indonesia Usman Hamid dalam forum Refleksi Akhir Tahun Ilmu Fisipol UMY, Selasa (15/12).

Setali tiga uang, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Cak Nanto turut menyesalkan hal itu, terbatasnya ruang kritik menurutnya justru akan memperburuk kesehatan politik suatu negara.

“Bentuk suara-suara rakyat untuk menyampaikan aspirasinya sampai saat ini semakin sempit. Sehingga gagagan banyak tidak didengar oleh pemangku kepentingan. Demo diintimidasi. Ruang bagi aktivis dan masyarakat sipil sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.

“Yang ada jangan sampai publik malah mendiamkan semua ketidakadilan dan semua kemungkaran yang dilakukan pejabat-pejabat kita yang itu sangat membahayakan bangsa kita,” imbuhnya dalam Refleksi Akhir Tahun Forum Diskusi Denpasar, Rabu (16/12).

Cak Nanto yang juga mantan Kornas JPPR itu menyebut negara wajib memfasilitasi ruang kritik sebagai bentuk kenegarawanan dan tanggungjawab kepemimpinan mengayomi seluruh kelompok bangsa.

“Saya belum melihat ada ruang yang diberikan negara untuk mengaktualisasikan berbagai kemampuan rakyatnya. Karena itu, ketika ada orang berbeda dianggap sebagai ancaman yang merongrong negara ini,” keluhnya.

“Jangan sampai pemerintah, DPR membuat undang-undang yang ketika selesai baru dikonsolidasikan kepada masyarakat. Ketika masyarakat teriak terhadap hasil undang-undang dianggap sebagai bagian dari makar, merongrong pemerintahan padahal rekayasa pembentukan undang-undang tidak melalui prosedur yang sangat rigid dan sangat aspiratif. Ini tidak baik,” tegurnya.

Bagi Cak Nanto, ketakutan pada kritik justru akan merugikan sebuah negara karena potensi anak bangsa tidak teraktualisasi dengan baik hanya karena berbeda. Kebersamaan, menurutnya adalah kunci yang harus diwujudkan dalam kehidupan bernegara.

“Yang banyak tidak hadir dalam tahun 2020 adalah bagaimana policy kebersamaan menjadi cita-cita membangun bangsa mulai terongrong oleh kepentingan segelintir orang dan sebagian kecil kelompok sehingga tidak memasifkan potensi kader-kader pemuda dan bangsa,” jelasnya. (afn)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0