in

Antisipasi Hoaks, Cak Nanto Tekankan Pentingnya Peran Tokoh Agama dan Masyarakat

PPPM, JAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto menekankan tiga hal terkait fenomena berita bohong atau hoaks dalam perubahan konstelasi perpolitikan nasional. Ketiga hal itu penting dipahami bersama sebagai bentuk antisipasi agar publik atau masyarakat tidak terjebak pada arus informasi hoaks.

“Pertama, sekarang kita kehilangan aktor penengah, aktor yang menjadi peredam setiap informasi yang ada,” terang Cak Nanto-sapaannya akrabnya, dalam diskusi “Hoax dan Perubahan Konstelasi Perpolitikan Nasional” di Media Center KPU RI, Jalan Imam Bonjol 29, Jakarta Pusat, Kamis 10 Januari 2019.

Selain Cak Nanto, diskusi yang diselenggarakan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) menghadirkan Komisioner KPU Bidang Hukum Hasyim Ashari, Direktur Kode Inisiatif Beri Junaidi, Sekjen GP Ansor Adung Abdul Rochman, Sekjen KIPP Indonesia Kaka Suminta dan Ketua DPP Gerindra Habiburokhman.

Menurut Cak Nanto, jika dulu metode kampanye yang dilakukan lebih banyak bersifat door to door. Hal itu dilakukan karena beluminformasi teknologi yang begitu cepat sehingga setiap informasi apapun yang berkembang di masyarakat bisa ditangani oleh tokoh agama hingga tokoh masyarakat.

Problemnya sekarang, di samping metode door to door tidak terlaksana dengan baik, banyak tokoh agama dan tokoh masyarkat juga menjadi politisi. Keadaan demikian menjadi permasalahan tersendiri, sebab ketika misalnya mereka berusaha meredam atau menjadi penengah sudah mendapatkan stempel dari masyarakat.

“Itu persoalan, ketika ada informasi dan tokoh agama mau menjadi aktor penengah, masyarakat kadung menganggap jangan-jangan ini bagian dari penjelasan dan mengamini hoaks itu sendiri,” ucapnya.

Perilaku politik yang berkembang dewasa ini di tengah gempuran teknologi informasi, lanjut Cak Nanto, membuat penanganan berita bohong mengalami kendala. Polarisasi tokoh-tokoh yang ada yang awalnya bisa dipercaya, namun karena mendukung pihak tertentu menjadikan kepercayaan publik berkurang.

“Kalau dulu kan ada deveresiansi antara tokoh agama dan tokoh politik. Jelas, ini tokoh agama, ini tokoh politik, sekarang susah mana tokoh agama, mana tokoh politik dan tokoh masyarakat. Karena walau dia tidak menjadi anggota parpol, dia memiliki ‘penjelasan’ secara blak-blakan terhadap pilihan politik tertentu. Ini yang perlu dikritisi bersama,” urainya.

Poin kedua, di dalam aturan yang dipahami, ternyata tidak mampu menjawab fenomena yang muncul. Keberadaan Undang-Undang lebih cenderung mempelajari kejadian masa lalu kemudian ramai-ramai mendorong agar diterbitkan aturan atau Undang-Undang tertentu. Keberadaannya tidak mampu mengantisipasi kejadian yang akan terjadi, termasuk menurutnya pada penyelenggara pemilu.

Cak Nanto mencontohkan bagaimana metode kampanye sekarang yang rigid. Penyelenggara pemilu dalam hal ini mengawasi door to door sehingga kandidat susah melakukan pertemuan tertutup ataupun sosialisasi. Pasalnya banyak mata-mata yang sewaktu-waktu bisa melaporkannya kepada penyelenggara pemilu.

“Ini fenomena yang tidak terjadi pada pemilu sebelumnya, dimana pertemuan tertutup, pertemuan tatap muka, menjadi solusi dalam menyampaikan visi misi sampai kontrak politik dengan masyarakat,” imbuh dia.

Jika kandidat nekat melakukan kampanye atau sosialisasi, mereka dihadapkan pada jeratan hukum yang ada di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Poin ketiga, dalam berbagai kasus, tidak selamanya informasi yang tidak benar alias hoaks merugikan orang tertentu. Bisa jadi, meski menjadi sasaran, bagi yang bersangkutan karena merasa tidak melakukan lantas membiarkannya menjadi bola liar di media sosial. Yang bersangkutan sadar menjadi sasaran, namun membiarkannya sehingga menjadi pembicaraan publik.

“Jangan salah, bahwa orang yang digosipkan itu merasa terhina loh, kadang-kadang merasa bangga, kadang-kadang itu juga bisa menaikkan elektabilitas. Hoaks itu jangan dianggap sesuatu yang tidak banyak manfaatnya, kadang bisa jadi kampanye gratis,” kata Cak Nanto.

Penulis: admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0