in

Akuisisi Semeru FC Jadi PSWH, Klub Kebanggaan Muhammadiyah Siap Berlaga di Kompetisi Liga 2

Proses pengesahan akusisi klub sepakbola Semeru FC Lumajang oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
Proses pengesahan akusisi klub sepakbola Semeru FC Lumajang oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

PPPM – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menyampaikan mengenai pembelian klub sepak bola dan akan ikut kompetisi Liga 2. PWM Jawa Timur sepakat mengakuisisi klub sepak bola, Semeru FC, klub sepak bola yang bermarkas di Lumajang.

Klub tersebut selanjutnya akan berganti nama menjadi Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW) Jatim. Proses akuisisi sudah dilaksanakan kedua belah pihak dan segera menuntaskan proses administratif sebagai syarat untuk mengikuti Kompetisi Liga 2.

Ketua Persatuan Sepakbola Hizbul Wathan (PSHW) Muhammadiyah Jatim, Dhimam Abror membenarkan informasi mengenai pembelian klub sepak bola Semeru FC Lumajang.

“Iya benar kabar (akuisisi) tersebut. Kami telah mengakuisisi klub sepakbola Semeru FC Lumajang,” tulis Dhimam Abror dalam pesan singkatnya Selasa 25 Februari 2020.

Rencananya, pada Maret mendatang PSHW akan menjadi klub yang ikut Kompetisi Liga 2 tahun 2020. Pembelian klub sepak bola oleh Muhammadiyah ini merupakan yang pertama kali. Bukan tak mungkin setelah PWM Jawa Timur, PWM-PWM lain yang akan melakukan hal serupa. Dengan pola yang sama maupun berbeda.

Sebagai organisasi tertua di Indonesia, Muhammadiyah lebih banyak mengembangkan cakar dakwahnya melalui pendidikan, kesehatan, dan sosial. Melalui Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sudah ribuan sekolah, dari SD sampai perguruan tinggi, dibangun. Dari Sabang sampai Merauke ada. Kapasitasnya juga terus bertambah.

Juga dengan keberadaan rumah sakit, balai kesehatan ibu dan anak, balai kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dan apotek milik Muhammadiyah yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Belum termasuk pondok pesantren, masjid, panti asuhan anak yatim, panti jompo, panti wreda, panti cacat netra, dan infrastruktur sosial yang tercecer di mana-mana.

Sepak bola juga bisa menjadi turning poin bagi Muhammadiyah. Setidaknya, Muhammadiyah bisa memosisikan diri menjadi bagian penting ikut membangun dan memerbaiki kondisi carut marut persepakbolaan nasional. Hal itu sesuai dengan watak Muhammadiyah yang selalu berkontribusi dan mencari solusi.

Selain itu, dalam catatan sejarah, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan sangat menggemari bermain sepak bola. Seperti disampaikan Sukriyanto (Ketua PP Muhammadiyah), di bawah kepemimpinan Farid Makruf (Menteri Muda Urusan Haji era Bung Karno) kalangan pemuda Muhammadiyah menggalang dana untuk membangun lapangan sepak bola. Ada yang satu meter, 10 meter, 50 meter, sampai 100 meter. Hingga terbeli lebih dari dua hektar.

Kala itu, arsiteknya dan pimpronya, Ir Soeratin Susrosugondo. Dia teman dan guru KH Ahmad Dahlan. Suratin adalah salah seorang pendiri PSSI dan ketua PSSI pertama (1930-1940). PSSI sampai sekarang masih menggelar Kompetisi Piala Soeratin untuk U-17 ke bawah. Instrumen yang dimiliki Muhammadiyah untuk terlibat di sepak bola, juga cukup lengkap.

Potensi Muhammadiyah untuk menjadi yang terbaik dan tampil di kasta tertinggi juga sangat terbuka. Tinggal komiten dan integritas yang harus dijaga. Dan kalimat kerennya bisa seperti ini,”Sepak bola Indonesia perlu sentuhan amar makruf nahi mungkar.”

PSHW sendiri sebagaimana disampaikan Direktur Teknik Tim Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW) Jawa Timur Hanafing sudah melakukan seleksi terbuka pembentukan tim.

“Setelah seleksi kami tidak bisa diam. Kompetisi sudah di depan mata dan semua harus bekerja keras meraih prestasi. Semoga dengan terbentuknya tim mampu mencetak pemain yak hanya berkualitas, tapi juga cerdas dan berintegritas,” kata Ketua PSHW Jatim Dhimam Abror Djuraid.

Sumber:
tribunnews.com
gomuslim.co.id

Penulis: admin

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0