in

Meruwat Visi Kebangsaan

Oleh: Zaedi Basiturrazak
Bendahara Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah
(artikel ini telah dipublikasikan oleh www.jibpost.id)

Perjalanan Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat, selalu tidak luput dari lakon sejarah anak muda. Di awal berdirinya negara Indonesia, generasi muda di masa lampau mampu meletakkan pondasi bangsa dengan spirit perjuangan meraih kemerdekaan. Tidak perduli dari suku dan ras manapun berpadu menyuarakan visi keindonesiaan yang lebih bermartabat dan berdaulat.

Ibarat membangun sebuah rumah, pondasi yang kuat mestinya akan mampu menopang struktur bangunan di atasnya. Begitu juga dengan bangsa ini yang sudah terbangun dengan perjuangan penuh darah dan peluh serta api semangat agar entas dari penindasan, kemiskinan, dan penjajahan.

Rumusan Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara yang dibuat saat itu, merupakan satu dari sekian banyak bukti otentik betapa generasi muda sangat visioner. Mereka mampu mengejawantahkan pandangan keagamaan, sosial, politik dan ekonomi dalam kerangka deduktif dan aksiomatik sehingga mampu mengikat seluruh aspek kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Terbukti hingga sekarang Pancasila dan UUD masih tetap hadir menjadi rumah sejuk bangsa di tengah keberagaman sosial; etnis, suku, budaya dan agama. Sekaligus juga mampu menangkal gempuran faham yang berusaha menggerogoti suasana batin warga dan mengoyak tatanan sosial masyarakat dalam berkhidmat untuk bangsa dan negara.

Seiring berjalan waktu, legasi bangsa yang hebat tersebut sering kali alpa dalam keseharian anak muda. Banyak lakon kita yang malah kontras dengan spirit dan filosofi yang dikandungnya. Tidak jarang kita lihat saling caci antarsesama, memaksakan pemikiran kepada orang lain, menyalahgunakan wawenang, korupsi dan sebagainya.

Melihat fenomena ini, Pancasila tak ubahnya hanya sebagai riasan dan jargon semata serta menjadi kebanggaan semu di ruang-ruang formal. Tanpa disadari justru kita telah memperkosa, mengkebiri dan membiarkannya usang membonsai di tepi sudut terjauh alam pikir manusia. Meminjam istilah Prof. Buya Syafii Maarif, Pancasila dengan nilai-nilai luhur, baik dari aspek filosofi dan teori yang tidak diragukan lagi sebagai temuan terbaik para pendiri bangsa kini dibiarkan terlunta-lunta di tangan anak bangsa yang tidak mau belajar.

Ilusi Kebenaran

Ali bin Abi Thalib pernah bertutur, “Jangan kenali kebenaran berdasarkan individu-individu. Kenalilah kebenaran itu sendiri, otomatis kau akan kenal siapa di pihak yang benar.” Ungkapan tersebut dikutip oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin ketika membahas tentang etika mencari ilmu.

Ungkapan itu masih relevan maknanya jika kita refleksikan dalam realitas sosial bangsa, yang mana tafsir kebenaran masih didominasi oleh ego yang menjelma menjadi tafsiran identitas personal dan kelompok tertentu dan menjadi tameng atas kebodohan setiap lakon individu dan kelompok identitasnya. Imbas dari kebodohan perilaku tersebut adalah menegasikan perbedaan yang selama ini menjadi modal kebersamaan dalam meniti jalan menuju bangsa yang berdaulat.

Situasi tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku keseharian sebagian masyarakat, baik di dunia nyata maupun dunia maya yang sungguh jauh dari watak asli bangsa. Sering kali kita disuguhkan perilaku anak bangsa yang mudah tersulut api amarah, mudah mengumpat, menghakimi sesama bahkan terhadap pemerintah sekalipun. Maka tidak heran jika Digital Civility Index (DCI) mendudukkan tingkat kesopanan warganet Indonesia pada saat berkomunikasi di dunia maya menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara.

Mengapa situasi ini terus saja terjadi jika bangsa ini dibangun di atas perbedaan ras, suku dan tradisi agama yang berbeda-beda. Jangan-jangan hanya residu politik yang menempel dalam darah daging anak bangsa, lalu menggumpal menjadi sandaran identitas baru atas dirinya. Atau jangan-jangan juga ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginginkan bangsa ini bersatu dan selalu terbelah. Ini patut menjadi renungan bagi dari kita yang baik sadar atau tidak sadar sering kali terlibat dalam kebodohan tersebut.

Dalam perpektif identitas sosial, kita dapat melihat sikap dan perilaku seseorang yang disandarkan pada ego dan identitas tertentu disebabkan karena adanya distorsi kognitif dalam diri seseorang. Jika berangkat dari praduga di atas, patut dicurigai bahwa terdapat batasan nilai kebenaran yang disandarkan hanya pada kepentingan ego dan identitas kelompok tertentu. Identitas tersebut terbentuk oleh polarisasi politik dengan sadar ataupun tidak. Dengan demikian, produksi nilai kebenaran hanya didasarkan pada hal yang dapat memuaskan ego pribadi maupun kelompoknya.

Distorsi semacam ini bisa kita sebut sebagai confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk mencari bukti-bukti yang sesuai dengan pendapat pribadinya tanpa mencari bukti-bukti yang menegasikannya atau berlawanan. Intinya, fokus individu lebih pada mencari informasi berdasarkan apa yang kita yakini benar dan cenderung menolak informasi yang bertentangan (Thomas Pettigrew, 1980).

Selain itu, kita juga sering melihat perdebatan netizen di lini media sosial mengenai objek tertentu yang hanya disandarkan pada dua kutub identitas. Sebut saja “kadrun” yang secara umum selalu identik dengan kontra pemerintah dan “cebong” untuk kubu sebaliknya. Naifnya, kasus ini semakin digeneralisir dalam konteks apa pun. Distorsi kognitif semacam ini disebut sebagai in-gro up bias (Tafjel.H, 1978), yaitu tendensi seseorang untuk menganggap kelompoknya adalah yang terbaik, benar, mutlak, sehingga tercipta persepsi bahwa kelompok lain salah.

Dalam konteks tersebut, seolah klaim kebenaran hanya dibatasi oleh dua kutub politik tersebut. Belum lagi munculnya istilah-istilah lain yang arahnya pada klaim kebenaran sepihak, judgement, prasangka dan lain sebagainya yang menimbulkan jarak sosial semakin ‘menganga’. Sungguh sebuah ilusi terhadap tafsir kebenaran itu sendiri, yang dapat meruntuhkan Pancasila sebagai visi identitas bangsa.

Meruwat Visi Kebangsaan

Keragaman yang kita miliki merupakan modal dasar untuk mewujudkan visi bangsa yang besar. Karena, keragaman mengandung banyak potensi yang dapat digunakan untuk mewujudkan tujuan bersama. Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan jika bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat, adil, makmur dan maju bersaing dengan negara lain.

Namun pada kenyataannya, sejauh mata memandang, bangsa ini masih disibukkan dengan urusan domestik yang remeh-temeh, bahkan konflik yang tidak jelas pangkal dan ujungnya. Polarisasi kelompok yang terjadi justru menjebak kita pada area biner: salah dan benar. Bias identitas membawa perbedaan ke jurang yang semakin dalam sehingga lupa pada soal-soal strategis yang harusnya menjadi tanggung jawab bersama.

Di sinilah pentingnya kita meruwat visi kebangsaan kita agar terhindar dari bahaya yang mengancam kebersamaan bangsa. Meruwat dalam konteks ini tidak merujuk pada aspek seremonial yang ada pada tradisi jawa, melainkan pada aspek makna dan nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.

Berasal dari kata ‘ruwat’ yang mengandung arti membuang sial atau menyelamatkan orang dari gangguan tertentu. Gangguan itu bisa dikatakan sebagai abnormalitas dari suatu kondisi yang umum dalam suatu keluarga atau individu.

Gangguan yang harus diruwat kita perluas makna menjadi gangguan massa yang sedang mengalami disorientasi akut yang bakal membawa sial, cilaka atau dampak sosial bangsa. Sehingga kita akan mendapatkan berkah berupa keselamatan, kesehatan, kedamaian, ketentraman jiwa, kesejahteraan dan kebahagiaan bagi diri dan bangsa.

Visi kebangsaan yang dimaksud adalah kedaulatan, keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Bukan visi yang dibangun atas kepentingan ego personal ataupun identitas kelompok. Sebagai anak generasi, kita perlu membongkar isi kepala kita dan mendefinisi ulang oriantasi keindonesiaan kita dengan sikap terbuka dan berlapang dada supaya terhindar dari kejumudan logika.

Maka mengingat, meresapi dan memaknai kembali semua aspek perjuangan dan kebersamaan yang dilakukan oleh generasi pendahulu dalam mengentaskan penjajahan di Indonesia harus menjadi spirit utama. Sehingga terhindar dari sikap dan perilaku semena-mena yang bisa menjerumuskan pada perpecahan Indonesia.

Memasuki usia ke-76 Negara Kesatuan Republik Indonesia mestinya sudah cukup dewasa dan maju dari aspek apa pun. Dengan meruwat visi kebangsaan kita, semoga dapat menjadi titik balik bagi bangsa ini untuk segera mewujudkan kemakmuran, keadilan bagi seluruh rakyat dan meningkatkan daya saing bangsa di kancah dunia.

Pandemi Covid-19 yang sedang mendera bangsa dan dunia menjadi ujian penting atas visi kebangsaan kita. Sejauh mana kita mampu menyelaraskan visi dan meng-aksentuasikan-nya guna entas dari bencana menjadi prioritas utama di atas semua kepentingan pribadi dan kelompok identitas. Kemudian kita segera berbenah, menata kembali sistem sosial yang terdampak oleh wabah ini. Sehingga tema ‘Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh’ pada HUT RI ke- 76 menjadi sebuah visi yang dapat dimenangkan oleh kita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading…

0